Warga Dayak Long Wai 13 Tahun Berjuang Mengembalikan 4.000 Hektar Tanah Adat dari Perusahaan Sawit

Kompas.com - 10/02/2021, 14:16 WIB
Salah satu tokoh adat Dayak Long Wai saat memberi pengarahan kepada warga lain saat aksi damai menutup akses pengangkutan CPO dan buah sawit di wilayah adat Dayak Modang, kilometer 16, Desa Long Bentuk, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (30/1/2021). IstimewaSalah satu tokoh adat Dayak Long Wai saat memberi pengarahan kepada warga lain saat aksi damai menutup akses pengangkutan CPO dan buah sawit di wilayah adat Dayak Modang, kilometer 16, Desa Long Bentuk, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (30/1/2021).

SAMARINDA, KOMPAS.com – Masyarakat Adat Dayak Long Wai di Desa Long Bentuk, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, tengah memperjuangkan tanah adat mereka.

Masyarakat adat di desa ini tengah berkonflik dengan salah satu perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di sekitar desa mereka.

“Ada sekitar 4.000 hektar lahan masyarakat adat masuk dalam areal perusahaan, digusur dan ditanami sawit tanpa persetujuan masyarakat Dayak Long Wai,” ungkap Kepala Adat, Daud Lewing, melalui keterangan pers yang dikirim kepada Kompas.com, Rabu (10/2/2021).

Baca juga: Oknum Pegawai Kelurahan Diduga Pungli Pembuatan Surat Keterangan Tanah Rp 1 Juta Per Lembar

Perjuangan mengambil alih lahan itu, kata dia, sudah berlangsung lebih kurang 13 tahun.

Namun, hingga saat ini belum membuahkan hasil. Belum ada iktikad baik dari perusahaan.

Pada 30 Januari 2021, masyarakat adat melakukan aksi damai dengan menutup akses pengangkutan CPO dan buah sawit di wilayah adat Dayak Modang, Desa Long Bentuk, tepatnya di Kilometer 16.

Warga melakukan pemortalan jalan sambil membentang spanduk bertulisan "Kembalikan tanah adat kami", "Stop rampas hak masyarakat adat", dan berbagai seruan lainnya.

Aksi damai itu dilakukan berdasarkan hasil rapat masyarakat adat Dayak Modang Long Wai yang difasilitasi Dewan Adat Daerah Kalimantan Timur (DAD-KT) di Balai Adat pada 30 Januari 2021.

Penutupan akses jalan berlangsung sekitar lima hari.

“Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan kami,” tegas dia.

Masyarakat meminta perusahaan keluar dari wilayah Desa Long Bentuk, sesuai batas adat yang sudah disepakati antar desa pada 1993.

“Kami meminta lahan adat seluas 4.000 hektar itu dikeluarkan dari konsesi perusahaan,” tutur dia.

Masyarakat juga meminta perusahaan mencabut kepala sawit yang telah ditanam di atas tanah adat milik masyarakat, dan segera memulihkan fungsi lingkungan seperti sediakalanya.

“Perusahaan harus menanam kembali kayu ulin, meranti, durian, karet, kelapa, kopi, dan lainnya di lahan yang digusur itu dan memeliharanya sampai berhasil,” tegasnya.

Baca juga: Dicabuli Ayah Kandung Sejak 2017, Siswi Melapor ke Wali Kelas

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Update Covid-19 di Riau, Bertambah 111 Kasus, 2 Orang Meninggal

Update Covid-19 di Riau, Bertambah 111 Kasus, 2 Orang Meninggal

Regional
Kamis Ini, Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Kepri Dilantik

Kamis Ini, Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Kepri Dilantik

Regional
136 Napi dan 16 Petugas di Tenggarong Positif Covid-19 Diduga karena Lapas Over Kapasitas

136 Napi dan 16 Petugas di Tenggarong Positif Covid-19 Diduga karena Lapas Over Kapasitas

Regional
Surplus Beras Tiap Tahun, Pj Gubernur Kalsel Usulkan Jalur Logistik Pangan untuk Ibu Kota Baru

Surplus Beras Tiap Tahun, Pj Gubernur Kalsel Usulkan Jalur Logistik Pangan untuk Ibu Kota Baru

Regional
Dua WNA Asal Pakistan dan Yaman Pemilik 821 Kilogram Sabu Divonis Mati

Dua WNA Asal Pakistan dan Yaman Pemilik 821 Kilogram Sabu Divonis Mati

Regional
136 Napi dan 16 Petugas Lapas Perempuan Kelas II A Tenggarong Positif Covid-19

136 Napi dan 16 Petugas Lapas Perempuan Kelas II A Tenggarong Positif Covid-19

Regional
Soal Vaksin Covid-19 Lansia di Surabaya, Kadinkes: Mereka Antusiasnya Sangat Tinggi

Soal Vaksin Covid-19 Lansia di Surabaya, Kadinkes: Mereka Antusiasnya Sangat Tinggi

Regional
3 Penambang Tewas, Petugas Sisir Lokasi Longsor Tambang Emas Ilegal di Parigi Moutong

3 Penambang Tewas, Petugas Sisir Lokasi Longsor Tambang Emas Ilegal di Parigi Moutong

Regional
Pemkot Banjarmasin Perpanjang PPKM Skala Mikro hingga 8 Maret 2021

Pemkot Banjarmasin Perpanjang PPKM Skala Mikro hingga 8 Maret 2021

Regional
Mantan Kades Perempuan di Cianjur Gelapkan Dana Desa Rp 332 Juta

Mantan Kades Perempuan di Cianjur Gelapkan Dana Desa Rp 332 Juta

Regional
Pimpinan Pusat MTA Ahmad Sukina Wafat karena Sakit, Ini Sosoknya di Mata Sang Anak

Pimpinan Pusat MTA Ahmad Sukina Wafat karena Sakit, Ini Sosoknya di Mata Sang Anak

Regional
Pergerakan Tanah di Sindanglangu Cianjur Meluas, Warga Berharap Direlokasi

Pergerakan Tanah di Sindanglangu Cianjur Meluas, Warga Berharap Direlokasi

Regional
Pacar 'Chatting' dengan Pria Lain, Mahasiswa Ini Pilih Gantung Diri di Kosnya

Pacar "Chatting" dengan Pria Lain, Mahasiswa Ini Pilih Gantung Diri di Kosnya

Regional
Gunung Merapi Keluarkan Guguran Lava Pijar 28 Kali, Jarak Luncur Maksimum 1.000 Meter

Gunung Merapi Keluarkan Guguran Lava Pijar 28 Kali, Jarak Luncur Maksimum 1.000 Meter

Regional
Istri Polisi Tertipu Rp 100 Juta Investasi Voucer Pulsa di Padang Pariaman

Istri Polisi Tertipu Rp 100 Juta Investasi Voucer Pulsa di Padang Pariaman

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X