Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan demi Mengajar

Kompas.com - 30/10/2020, 12:03 WIB
Berta Bua’dera saat berada di rumah yang dipinjamkan warga ke dirinya dan suaminya di Kampung Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONBerta Bua’dera saat berada di rumah yang dipinjamkan warga ke dirinya dan suaminya di Kampung Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020).

Sekolah ini hanya punya dua guru honor, yakni Berta dan Herpina dengan jumlah 17 murid.

Karena gedung sekolah hanya punya dua ruang kelas, masing-masing ruang ditempati tiga kelas.

Tempat duduk para murid dipisah berdasarkan tingkatan kelas.

Melihat kondisi sekolah tempat Berta mengajar jauh dari kesan layak.

Terlihat seng atap ruang kelas yang penuh karat ditambah keramik dan pondasi bagian belakang gedung yang sudah retak.

Bangunan berusia 25 tahun ini, jadi satu-satunya bangunan beton di kampung ini.

Sekolah ini induknya di SDN 004 di Kota Samarinda.

SD Filial dibangun Pemkot Samarinda untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak di kampung ini. Sebab, letak kampungnya jauh dari sarana pendidikan.

Jarak Samarinda menuju kampung ini sekitar 25 kilometer.

Kampung yang dihuni sejak 1982, memiliki luas sekitar 11 hektare.

Kini, sudah ada 64 kepala keluarga yang bermukim di kampung ini yang rata-rata berprofesi bertani dan berkebun.

Tahun 2000-an, Pemkot Samarinda memasukkan kampung jadi wilayah administrasi Samarinda karena beberapa RT dinilai lebih dekat.

Pemkot Samarinda juga membuka jalan penghubung menuju kampung ini dari Samarinda melewati jalur Batu Besaung.

Namun, belakangan proyek semenisasi jalan disetop mucul tarik ulur perebutan wilayah dengan Pemkab Kutai Kertanegara.

Konfik berakhir pada 2012 setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kala itu mengeluarkan SK Nomor 136/590/BKPW-C/I/2012 tentang kepemilikan wilayah oleh Pemda Kutai Kertengara.

Keputusan ini memberi konsekuensi nasib SDN Filial.

Gedung sekolah aset punya Pemkot Samarinda tapi lahan milik Pemkab Kutai Kertanegara.

Sampai saat ini kasus ini masih menggantung.

Pemkot Samarinda mengaku khawatir perbaikan gedung sekolah karena aset berdiri di lahan Pemkab Kukar.

Terlepas dari polemik kepemilikan lahan, letak sekolah yang jauh dan akses masuk yang sulit membuat guru-guru yang mengajar di sekolah ini tidak bertahan lama.

Berta dan Herpina mengakui dua alasan tersebut.

Berta mengajar di sekolah ini lebih dahulu empat tahun dari Herpina.

Herpina sendiri merupakan alumni di SDN Filial. Karena kekurangan guru, dia diminta mengajar pada 2015 saat masih berstatus mahasiswa.

Tahun lalu, Herpina sudah wisuda dan menyandang status sarjana strata satu pendidikan.

Nasib Herpina, tak sama dengan Berta.

Herpina tinggal di Desa Bangun Rejo, lebih dekat menuju sekolah.

Tiap pagi Herpina menggunakan motor menuju sekolah.

“Saya agak ringan ketimbang nasib Bu Berta, jalan kaki berkilo-kilo,” ungkap Herpina kepada Kompas.com.

Selain jalan kaki ke sekolah, Berta juga hanya berijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Sekolah tersebut zaman dulu setingkat dengan SMA.

Karena itu, ia tak bisa berharap banyak dari pemerintah soal peningkatan status.

“Mau tes PNS umur sudah tua. Tidak ada kesempatan lagi, jadi jalani saja saat ini,” ungkap Berta pasrah.

Menjelang siang tiba saat jam pulang sekolah, Berta kembali bersiap jalan kaki menyusuri hutan menuju rumahnya.

Bekal nasi yang ia bawa kadang dimakan langsung di sekolah setelah jam pulang.

“Kalau jalan sudah terlalu capek kadang lapar, saya makan di perjalanan. Istirahat sebentar makan dulu, baru lanjut jalan lagi,” tutur Berta.

Jika ia berangkat pukul 12.00 atau 13.00 Wita, Berta tiba di kediamannya sekitar pukul 16.00 bahkan sampai 17.00 Wita.

“Karena jalan siang itu lebih cepat capek, ketimbang pagi hari. Karena itu sampai rumah agak lambat,” tutur Berta.

Begitu tiba di rumah Berta mengaku langsung tertidur karena lelah.

Ia sudah tak sempat membantu suami di kebun ataupun mengurusi dapur.

“Setelah bangun baru masak-masak,” ucap Berta.

Dipinjamkan pondok

Tabah menjalani rutinitas ini bertahun-tahun, membuat warga yang memiliki kebun di lokasi tersebut ibah.

Pada 2017, seorang warga pemilik kebun menawarkan pondoknya untuk ditinggali Berta dan suami. Hal itu bertujuan agar jarak lebih dekat dengan sekolah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sebar Hoaks Vaksin Covid-19 Bisa Hancurkan Rakyat Indonesia, Pelaku: Awalnya dari Komentar di Medsos

Sebar Hoaks Vaksin Covid-19 Bisa Hancurkan Rakyat Indonesia, Pelaku: Awalnya dari Komentar di Medsos

Regional
Suami Ditangkap Polisi karena Pukul Istri Saat Dibangunkan Tidur Siang

Suami Ditangkap Polisi karena Pukul Istri Saat Dibangunkan Tidur Siang

Regional
Viral Video Perundungan di Sebuah Hotel di Banjarmasin, Pelaku dan Korban Perempuan

Viral Video Perundungan di Sebuah Hotel di Banjarmasin, Pelaku dan Korban Perempuan

Regional
Kronologi Siswi SMP Dibunuh dan Diperkosa di Parit Sawah, Korban dan Pelaku Sempat Ngopi-ngopi

Kronologi Siswi SMP Dibunuh dan Diperkosa di Parit Sawah, Korban dan Pelaku Sempat Ngopi-ngopi

Regional
Fakta Syuting 'Ikatan Cinta' yang Timbulkan Kerumunan, Dipasang Penghalang hingga Warga Dibubarkan

Fakta Syuting "Ikatan Cinta" yang Timbulkan Kerumunan, Dipasang Penghalang hingga Warga Dibubarkan

Regional
Gubernur Kalsel Rasakan Kantuk Usai Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Gubernur Kalsel Rasakan Kantuk Usai Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Regional
Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun Berkali-kali, Pria Ini Diserahkan Warga ke Polisi

Cabuli Putri Kandung Usia 14 Tahun Berkali-kali, Pria Ini Diserahkan Warga ke Polisi

Regional
438 Nakes di Kepri Batal Divaksinasi Covid-19 Tahap 1

438 Nakes di Kepri Batal Divaksinasi Covid-19 Tahap 1

Regional
Tepergok Jualan Miras di Medsos, Wanita Penjual Jamu di Tasikmalaya Ditangkap

Tepergok Jualan Miras di Medsos, Wanita Penjual Jamu di Tasikmalaya Ditangkap

Regional
Menteri Sandiaga Ajak Pelaku Usaha hingga Ekspatriat Bekerja dari Bali, Ini Alasannya...

Menteri Sandiaga Ajak Pelaku Usaha hingga Ekspatriat Bekerja dari Bali, Ini Alasannya...

Regional
Detik-detik Linan Temukan Ayah, Ibu, dan Adiknya Tewas Usai Tahlilan di Dalam Rumah

Detik-detik Linan Temukan Ayah, Ibu, dan Adiknya Tewas Usai Tahlilan di Dalam Rumah

Regional
Pengakuan Pegawai Honorer Pemprov Kalbar yang Sebut Vaksin Hancurkan Rakyat Indonesia

Pengakuan Pegawai Honorer Pemprov Kalbar yang Sebut Vaksin Hancurkan Rakyat Indonesia

Regional
Ada Kerumunan Saat Syuting Sinetron 'Ikatan Cinta', Bupati Ade Yasin Singgung KPI

Ada Kerumunan Saat Syuting Sinetron "Ikatan Cinta", Bupati Ade Yasin Singgung KPI

Regional
Tangis Haru Keluarga Pecah Saat Hakim Putuskan 5 Perusak Mobil Polisi Saat Demo UU Cipta Kerja Tidak Ditahan

Tangis Haru Keluarga Pecah Saat Hakim Putuskan 5 Perusak Mobil Polisi Saat Demo UU Cipta Kerja Tidak Ditahan

Regional
Fakta Pencurian Benda Antik di Museum Sulawesi Tenggara, Tak Ada CCTV, Pakaian Adat hingga Samurai Ikut Hilang

Fakta Pencurian Benda Antik di Museum Sulawesi Tenggara, Tak Ada CCTV, Pakaian Adat hingga Samurai Ikut Hilang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X