Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan demi Mengajar

Kompas.com - 30/10/2020, 12:03 WIB
Berta Bua’dera saat berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ia lintasi selama 11 tahun sejak 2009 di Kampung Berambai Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONBerta Bua’dera saat berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ia lintasi selama 11 tahun sejak 2009 di Kampung Berambai Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020).

SAMARINDA, KOMPAS.com – Arah jarum jam menunjukkan pukul 03.30 Wita. Seorang guru honorer di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Berta Bua’dera sudah terbangun dari tidurnya.

Ia kemudian bergegas menuju dapur untuk mempersiapkan segala sarapan dan bekal yang akan dibawa ke sekolah.

Sayur daun singkong yang sudah direbus di tungku sebelah kemudian ditumis.

Setelah itu, dia goreng beberapa potong ikan kering.

Usai membereskan semua makanan, Berta merebus air panas.

Perempuan kelahiran 1972 itu mengaku tak bisa mandi kecuali pakai air panas.

Setelahnya, ia mengenakan seragam dinas berwarna coklat.

Berta menyempatkan sarapan dan menyiapkan nasi, sayur, dan ikan sehabis dimasaknya untuk bekal makan siang di sekolah.

Baca juga: Berderai Air Mata di Hadapan DPRD, Guru Honor di Ende 1 Tahun Lebih Belum Terima Gaji

Sebagian lainnya lauk ia sisakan untuk sarapan dan makan siang sang suami, Yusuf yang masih tidur.

Yusuf biasa bangun pukul 06.00 Wita saat Berta sudah tak ada di rumah.

Sekitar pukul 04.30 Wita, Berta sudah meninggalkan rumah.

Sambil menenteng tas kecil dan kotak bekal, ibu satu anak ini berjalan kaki membelah kesunyian menuju SDN Filial 004 di Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Rumah Berta dan sekolah terpisah hutan lebat. Jaraknya sekitar 5 kilometer.

Berlokasi di pinggiran Samarinda bersebelahan dengan Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Sebrang, Kutai Kertanegara.

Kawasan ini sebagian besar masih hutan.

“Tiap hari saya begini, jalan kaki lima kilo menuju sekolah bawa bekal,” ungkap Berta kepada Kompas.com saat ditemui di sekolah, Rabu (29/10/2020) sore.

Baca juga: Kisah Guru Honor di Flores, 7 Tahun Mengabdi dan Digaji Rp 75.000 Per Bulan

Sore itu, Kompas.com menemani Berta menyusuri jalan setapak yang sudah ia lalui selama 11 tahun sejak menjadi guru honor.

Kami menaiki bukit dan menuruni lembah menuju untuk sampai ke rumahnya.

Menurut Berta, jalan setapak ini terbentuk karena dilalui orang-orang saat berkebun. Kendaraan tak bisa lewat.

Dari sekolah, kami ke arah utara memasuki kawasan hutan. Kembali dihadapkan dengan medan cukup sulit.

Tak jauh dari sekolah terdapat beberapa rumah kayu, tetapi berjarak.

Rumah-rumah ini milik petani yang mengurusi kebun kemiri.

Setelah melewati kebun, kami memasuki kawasan tanpa hutan.

Kiri kanan jalan hanya terlihat rerumputan dan pepohonan. Suasana sepi, hanya terdengar suara burung dan nyanyian hutan.

Sesekali kami menanjak, menuruni bukit dan melintasi bebatuan.

“Kalau tidak hati-hati bisa jatuh,” Berta mengingatkan saat kami menanjaki jalan berbukit.

Ketika hujan, kata Berta, jalan tanah ini licin dan lengket.

Biasanya, ia menggunakan payung ke sekolah ketika hujan.

Tak jarang, perempuan kelahiran Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, ini mengaku kadang menemui ular kobra, monyet, bahkan orangutan.

“Monyet paling sering ketemu. Orangutan dan ular jarang-jarang, tapi ular di sini rata-rata berbahaya, ular kobra. Tapi syukur sejauh ini saya aman saja,” harap Berta.

Awal mengajar pada 2009, Berta jalan kaki bersama anaknya, Emanuel.

Saat itu Emanuel masih berusia lima tahun.

Tiap pagi Berta membawanya ke sekolah.

Keduanya menyusuri jalan sejauh 5 kilometer ini sampai sang anak masuk SD hingga lulus di sekolah itu.

Kini, Emanuel sudah duduk di bangku SMK dan pindah tinggal di Samarinda bersama tante atau adik Berta.

Karena itu, hanya Berta seorang diri yang kini masih bolak-balik dari rumah ke sekolah.

Menuju sekolah, Berta mengaku butuh waktu satu setengah sampai dua jam jalan kaki.

Ia biasanya berangkat dari rumah pukul 04.30 Wita dan tiba di sekolah pukul 07.30 Wita. 

Mengajar tiga kelas

Berta Bua’dera saat mengajar murid-murid di SDN Filial 004, Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Selasa (12/11/2019. KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATON Berta Bua’dera saat mengajar murid-murid di SDN Filial 004, Kampung Berambai, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Selasa (12/11/2019.

Di sekolah itu, Berta mengajar murid Kelas I, II dan III.

Jumlah murid tiga kelas ini tujuh orang. Di antaranya Kelas I tiga orang, Kelas II satu orang dan Kelas III tiga orang.

Murid tiga kelas ini digabung dalam satu ruang kelas dan Berta ditunjuk sebagai wali kelas.

Sementara, tiga kelas lainnya, IV, V dan VI wali kelas, Herpina (27).

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kembali Terjadi, 20 Ton Pasir Timah Seharga Rp 3 M Diselundupkan dari Natuna

Kembali Terjadi, 20 Ton Pasir Timah Seharga Rp 3 M Diselundupkan dari Natuna

Regional
Pemkab Karawang Kekurangan Reagen PCR Covid-19, Berencana Beli 5.000 Unit

Pemkab Karawang Kekurangan Reagen PCR Covid-19, Berencana Beli 5.000 Unit

Regional
Oleh Partai, Mereka Dicopot karena Dianggap Membelot...

Oleh Partai, Mereka Dicopot karena Dianggap Membelot...

Regional
Riau Peringkat 6 Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Nasional

Riau Peringkat 6 Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Nasional

Regional
Warga Temukan Bayi Terbungkus Selimut Tipis di Pos Ronda, Polisi: Kondisinya Masih Hidup

Warga Temukan Bayi Terbungkus Selimut Tipis di Pos Ronda, Polisi: Kondisinya Masih Hidup

Regional
25.297 Jiwa Terdampak Banjir Tebing Tinggi, Gubernur Sumut: Perut Dulu Ini Untuk Rakyat...

25.297 Jiwa Terdampak Banjir Tebing Tinggi, Gubernur Sumut: Perut Dulu Ini Untuk Rakyat...

Regional
Gara-gara Dendam, Tiga Remaja Bunuh Karyawan SPBU di Bengkulu

Gara-gara Dendam, Tiga Remaja Bunuh Karyawan SPBU di Bengkulu

Regional
Pelanggaran Protokol Kesehatan Saat Pilkada Tinggi, Bawaslu Beri Sanksi Tegas ke Paslon Kepala Daerah

Pelanggaran Protokol Kesehatan Saat Pilkada Tinggi, Bawaslu Beri Sanksi Tegas ke Paslon Kepala Daerah

Regional
Gubernur Gorontalo Larang Isolasi Mandiri Setelah 16 Guru Positif Covid-19

Gubernur Gorontalo Larang Isolasi Mandiri Setelah 16 Guru Positif Covid-19

Regional
Diduga Langgar Kode Etik, KPU dan Bawaslu Ketapang Disidang DKPP

Diduga Langgar Kode Etik, KPU dan Bawaslu Ketapang Disidang DKPP

Regional
[POPULER NUSANTARA] Soal Kabar Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi dari Pintu Belakang, Ini Kata Polisi | Dokter Yudhi Meninggal karena Covid-19

[POPULER NUSANTARA] Soal Kabar Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi dari Pintu Belakang, Ini Kata Polisi | Dokter Yudhi Meninggal karena Covid-19

Regional
RS Rujukan Covid-19 Kulon Progo Penuh sejak Klaster Dukcapil Muncul

RS Rujukan Covid-19 Kulon Progo Penuh sejak Klaster Dukcapil Muncul

Regional
Jadi Komoditas Ekspor, Bahan Baku Briket Arang di Jawa Tengah Mulai Langka

Jadi Komoditas Ekspor, Bahan Baku Briket Arang di Jawa Tengah Mulai Langka

Regional
'Suami Saya Salah, tapi Tolong, Jangan Bawa Keluarga'

"Suami Saya Salah, tapi Tolong, Jangan Bawa Keluarga"

Regional
'Kekerasan Seksual Bisa Menimpa Siapa Saja, Tanpa Memandang Apa yang Dikenakan Korban'

"Kekerasan Seksual Bisa Menimpa Siapa Saja, Tanpa Memandang Apa yang Dikenakan Korban"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X