Divonis Penjara 2014, Terpidana Korupsi Baru Dieksekusi Tahun Ini

Kompas.com - 29/10/2019, 08:24 WIB
Plh Kepala Kejari Tarakan Chandra Purnama didampingi rekannya saat memberikan keterangan pers di Kantor Kejati Kaltim, Samarinda, Senin (28/10/2019). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONPlh Kepala Kejari Tarakan Chandra Purnama didampingi rekannya saat memberikan keterangan pers di Kantor Kejati Kaltim, Samarinda, Senin (28/10/2019).

SAMARINDA, KOMPAS.com - Margareta Unjung Lerang (55), terpidana kasus korupsi pembangunan rumah layak huni Kota Tarakan, Kalimantan Timur, tak berkutik saat dijemput paksa petugas.

Dia diamankan tim Kejaksaan Negeri Tarakan bersama tim pidana khusus Kejati Kalimantan Timur di kediamannya di Jalan Belimbing 4, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Senin (28/10/2019).

Margareta baru diamankan pada Oktober 2019, padahal divonis bersalah pada Maret 2014.

Plh Kepala Kejari Tarakan Chandra Purnama mengatakan, dalam kurun waktu sekitar lima tahun pihaknya telah beberapa kali mendatangi rumah Margareta.

Baca juga: Kejari Samarinda Amankan Rp 2 Miliar Lebih dari Terpidana Korupsi

Namun yang bersangkutan tak berada di lokasi. Terpidana diketahui perpindah-pindah tempat sehingga menyulitkan petugas untuk mengamankan.

Chandra tidak menjelaskan lebih detail pertanyaan awak media terkait tidak langsung dieksekusinya Margareta dengan alasan baru bertugas sebagai Plh tiga hari.

"Baru hari ini kita berhasil amankan yang bersangkutan. Karena beberapa kali kami datangi alamatnya gagal terus," katanya di Kantor Kejari Kaltim, Senin.

Chandra mengatakan, terpidana dieksekusi berdasarkan putusan Putusan Mahkamah Agung RI No 2465K/Pid.Sus/2013 tanggal 26 Maret 2014 jo Putusan Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur No.30/Pid/Tipikor/2012/PT.KT.SMDA tanggal 22 November 2012 jo Putusan Pengadilan Tipikor pada PN Samarinda No.11/Pid.Tipikor/2012/PN.Smda tanggal 2 Agustus 2012.

Dia divonis bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kegiatan pembangunan perumahan layak huni Kota Tarakan 2010 yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 125,9 juta.

"Hukumannya penjara 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan penjara," kata dia.

"Terpidana juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 125,9 juta subsider 6 bulan penjara," tambahnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X